tentang blog

Jejak Gelandangan

Blog ini dibangun oleh dua kakak beradik teman baik saya, Danu dan Tytton, yang –karena hidup saya yang nomaden, pindah dari satu kota di sebuah negara ke kota lain dan ke negara lain– sejak kami berkenalan belum sempat kami bertemu. Komunikasi dengan Danu hanya saya lakukan melalui e-mail, SMS, chatting, dan telepon. Sementara Tytton, adik Danu, pertama kali membuat saya terkagum-kagum ketika dia membuat komik “Anak-anak Mama Alin” ketika saya berada di Belanda, kalau tak salah akhir 2004. Atas bantuan besar, desakan, dan rayuan kedua kakak beradik itulah, akhirnya saya mau juga dibuatin blog ini. Sebelumnya saya punya keengganan yang amat besar untuk memiliki dan mengelola blog. Selain karena tidak rutin punya waktu senggang, saya juga tidak begitu menikmati berbagi kisah melalui tulisan di blog. Saya lebih nyaman berbagi kisah (perjalanan) saya melalui foto-foto karya saya (dengan teknik fotografi pas-pasan banget) di Webshots dan Google Earth.

Suatu kali ketika saya iseng googling, barulah saya tahu masih ada beberapa teman yang ingat saya, menanyakan keberadaan saya, dan sesekali mendiskusikan karya-karya lama saya (yang justru sebenarnya membuat saya ingin menenggelamkan kepala saya ke dalam krah baju saya, karena karya-karya onani itu sering membuat saya merasa malu akan kenaifan masa muda saya). Baru tersadar, sudah lama sekali saya menghilang, berhenti berkarya. Serial “Anak-anak Mama Alin” dan “Emak Bilang Kami Tidak Miskin” yang muncul di Hai periode 1989 – 1996 (dari saya duduk di kelas 2 SMA sampai akhir masa kuliah) sudah saya tamatkan sebelum saya diterima menjadi wartawan di sebuah harian. Lima novel saya yang diterbitin Gramedia (empat novel “Anak-anak Mama Alin” masing-masing berjudul “Potret-potret”, “Tentang-tentang”, “Jejak-jejak”, dan “Napas-napas”, serta satu novel lepas berjudul “Bila”) pada periode itu pun, nggak satu pun yang dicetak ulang. Yeah, lima novel kacangan itu lebih merupakan pelengkap portfolio saya ketimbang jejak-ukur proses kreatif yang bisa saya banggakan.

Setelah jadi wartawan, tahun 2004 sempat juga saya bikin satu cerpen memenuhi permintaan Mbak Ike Gramedia, “Kupu-kupu Tak Berkepak”, yang dijadikan antologi bersama karya Gong, Hilman, Zara Zettira, dan lain-lain. Selama saya bergabung dengan redaksi sebuah harian (sejak 1997), selain “Kupu-kupu Tak Berkepak” itu, saya nggak pernah sempat lagi “berkarya”. Tulisan-tulisan yang saya buat melulu berita dan analisis untuk harian tempat saya bekerja.

Dikarenakan suatu sebab, Maret 2006 saya mengundurkan diri dari harian tempat saya bekerja, setelah sembilan tahun saya habiskan umur saya di situ. Nggak berapa lama setelah itu saya berangkat ke Amrik. Dari jarak puluhan ribu kilometer saat saya menggelandang di Amrik itu, Danu, Silvia (Jurnal Nasional), Sapto (Koran Tempo), dan beberapa teman maya beberapa kali menanyakan mengapa saya tidak kembali berkarya. Lebih dari menanyakan, mereka juga sering manas-manasin. Sejauh itu, terus terang saya masih belum berminat nulis lagi.

Saat ini, Maret 2008, kebetulan saya sedang berada Jakarta. Saya nggak yakin apakah saya sedang pulang, ataukah ini bagian dari pergi saya yang nggak berkesudahan. Danu, yang dosen, ngotot membangun blog ini dan terus-terusan manasin saya untuk nulis lagi – bikin sesuatu atas nama Bubin Lantang. Silvia juga nggak berenti-berentinya bilang masih banyak pembaca yang nyari dan menunggu saya. Saya sendiri nggak begitu yakin saya masih punya kemampuan menulis dan berbagi. Saya juga nggak tau apa yang mesti saya bagi, sementara manusia pergi kayak saya selalu nggak punya apa-apa untuk dibagi. Saya nggak tau harus mulai dari mana. Saya cuma gelandangan dengan jejak tak beraturan.

/bubin lantang




About

cover-klm1

Kisah Langit Merah
Keberanian untuk Terus Melangkah
Oleh: Bubin Lantang
Penerbit: Gagas Media

Petualangan bukan sekadar mengajak derap langkahmu menuju tempat-tempat asing yang kau idamkan.

Petualangan adalah pergi tanpa titik tujuan, membiarkan dirimu tersesat, mencari, dan memilih; dan kamu tak tahu kapan harus pulang.

Jangan bertualang. Cukupkan dirimu pada pelesir ke tempat-tempat indah yang belum pernah kau kunjungi, dan tetapkan sebelum pergi kapan kamu harus pulang…


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.