het spijt me
Sepulang dari Drie, Athena iseng memintanya membuatkan masakan Indonesia untuk mereka santap berdua malam itu di Blue Building. Setuju dengan usul itu, dia mampir ke Toko Melati membeli daun bawang, daun salam, cabe merah, gula jawa, kacang merah, tauge segar, tahu, tempe, serta beberapa bumbu dan makanan mentah Indonesia lainnya.
Pukul tujuh malam, saat nasi, tempe orek, tumis toge dengan irisan-irisan kecil tahu, dan sop kacang merah sudah siap di ruang makan koridornya di Blue Building, Athena datang membawa white wine JP Chenet dan beberapa makanan kecil untuk dessert yang gadis itu beli di Paddepoel. Tidak tanggung-tanggung, tiga botol white wine sekaligus dibawa Athena.
Sambil menyantap makan malam, Athena tak habis-habis memuji masakan Langit. “A guy who’s good in kitchen must be good on bed,” katanya.
“Adam Smith said that? Or was it David Ricardo?”
Athena terkekeh.
Mereka tidak bisa berlama-lama duduk di meja makan, karena mahasiswa-mahasiswa lain penghuni koridor tersebut juga memerlukan meja makan itu untuk bersantap malam. Setelah menyelesaikan makan malam mereka dan meneguk sedikit white wine, keduanya harus bangkit meninggalkan meja makan. Selesai mencuci semua peralatan makan dan peralatan masak, mereka melanjutkan perbincangan di teras koridor.
Di teras koridor, melewati awal malam di akhir musim gugur yang mulai sedikit dingin, keduanya menikmati bulan purnama segar yang baru terbit di langit malam yang cerah. Dua setengah botol JP Chenet yang masih tersisa menemani mereka. Keduanya dengan ringan bertukar cerita tentang kebiasaan dan budaya di negara masing-masing.
Athena dengan fasih juga menceritakan mitologi-mitologi Yunani, tempat-tempat di penjuru dunia yang sudah dia kunjungi dan yang amat ingin dia kunjungi (termasuk Bali), dan sikap kekanakan beberapa teman sekelas mereka.
“You drink like a fish, Tina,” kata Langit ketika Athena membuka botol ketiga dan mengguyur kerongkongannya dengan white wine seperti orang kahausan. Langit sendiri mulai merasakan jantungnya berdegup kencang, pendengaran dan pandangannya mulai kabur.
Athena mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari ranselnya. “Hey, we still have our old best friend here,” katanya tersenyum lebar, sambil mengacungkan sepaket pot lengkap dengan papirnya.
Gadis cantik berwajah khas Mediteranian itu menyodorkan bungkusan kecil itu kepada Langit, meminta Langit membuatkan lintingan untuk dia.
“And you smoke pot like a dragon!”
Athena menyeringai. “And you talk like a grandpa.”
Athena bercerita tentang bisnis hotel ayahnya, yang tak lama lagi akan dia kelola seluruhnya. Gadis itu bercerita, tiga tahun lalu dia telah menyelesaikan kuliah manajemen perhotelan di Swiss, lalu mulai membantu ayahnya menjalankan bisnis hotel mereka. Dia menjelaskan mengapa leher botol JP Chenet selalu miring. Dia menjelaskan juga mengapa BMW memakai lingkaran dengan dua seperempat bagian berwarna biru dan dua seperempat bagian lain berwarna putih sebagai logo.
Gadis itu juga bercerita, dia sangat menyukai diving dan ke mana-mana selalu membawa log book-nya. Dia menyebutkan jenis-jenis ikan cantik yang dijumpainya di dasar laut. Dia menjelaskan pentingnya dekompresi setelah seorang diver menyelam jauh hingga ke kedalaman tertentu.
Langit tidak ingat apa lagi saja yang mereka bicarakan, berapa bagian dari tiga botol white wine itu yang dia teguk, berapa linting pot murni tanpa campuran tembakau yang dia isap di teras koridornya itu, serta pukul berapa dan bagaimana dia masuk ke kamarnya.
…
Dia menghirup dalam-dalam wangi tubuh Daria, wangi rambut legam sebahu gadisnya itu. Dia merasakan halus kulit Daria. Dia merasakan embusan hangat napas Daria. Jantungnya berdentam keras bersamaan dengan dentam keras jantung Daria. Darah di dalam nadinya mendesir bersamaan dengan desir darah di dalam nadi Daria. Perlahan-lahan napasnya makin memburu bersamaan dengan makin memburunya napas Daria.
“Aku sayang kamu, Day,” bisiknya. “Aku mencintai kamu.”
“What? Say it again….”
Dia terkesiap.
“What did you just say?” terdengar lagi suara Athena.
Dia mengerjapkan matanya sekali lagi. Masih Athena, bukan Daria, yang berada di atasnya. Dia menghela satu napas panjang. Ditatapnya Athena beberapa detik. “I am really sorry.… I can’t do this, Tina….” katanya kemudian.
“That’s so funny.” Athena tersenyum.
“No. I’m serious, Tina.” Dia menggeser tubuhnya. “I can’t do this.”
Athena tertawa.
“I mean it, Tina…. I can’t do this,” ulangnya. Dia menghela napasnya lagi. “I have a girl waiting for me….”
“Are you saying that you are rejecting me when I’m already being naked?” Tawa Athena musnah. “Kamu bercanda, kan?”
Dia menggeleng lemah. Gelengan lemah seperti itu saja membuat kepalanya serasa berputar kencang. “I just… can’t.”
“Oh, great! This is really great! You are not kidding me. You are making a fool on me! You… you… piece of shit!” Athena melompat turun dari tempat tidur.
Sambil tergesa-gesa mengenakan kembali pakaiannya yang berserak di karpet, selusin umpatan meluncur lancar dari mulut gadis itu. Langit tak jelas mendengar segala serapah itu, pendengaran dan pandangannya begitu kabur. Apa yang dia dengar dan lihat seakan silih berganti menjauh dan mendekat. Yang telinganya bisa dengar dengan amat jelas adalah desir aliran darahnya sendiri di dalam tubuhnya dan detak jantungnya yang berdegup keras.
Selesai berpakaian Athena langsung menali sepatunya.
“I am so sorry about it, Tina.”
“Malaka!” Athena memaki, menyambar ransel dan jaketnya, lalu membawa langkah lebarnya keluar dari kamar Langit dan membanting pintu kamar itu keras-keras dari luar.
About this entry
You’re currently reading “het spijt me,” an entry on Bubin Lantang
- Published:
- April 13, 2008 / 12:42 pm
- Category:
- mosaik
- Tags:

